RAW video memang kinclong sekali

Pada era sekarang, semua video kalau tidak beratribut “4K” agak dianggap kurang keren ya. Tapi…eits…jangan percaya dulu, karena pemikiran seperti itu perlu diubah. Bahwa video HD 1080p pun bisa mempunyai gambar setajam “4K”. Sebagai sinematografer amatir, kita tidak boleh menyerah dengan keterbatasan kemampuan perangkat. Dan bersenang hatilah para penggunan Canon EOS karena ada Magic Lantern (ML) yang bisa digunakan untuk menge-“push” beberapa kemampuan kamera yang tidak bisa dilakukan memalui firmware bawaan.

Oh iya, saya menggunakan Magic Lantern (ML) ini sudah cukup lama dan masih saja dikejutkan dengan beberapa setting yang ternyata bisa dilakukan oleh kamera saya. Saya tidak pernah hafal variabel settingnya kalau saat itu tidak digunakan, karena saking banyaknya variabel yang bisa dilakukan oleh ML. Bagaimana cara memasang ML di kamera kita, silakan untuk mencari berbagai referensi baik di website ML sendiri ataupun video-video tutorial yang bertebaran di youtube.

Di video kali ini saya lebih banyak mencoba menggunakan ML dikombinasi dengan picture style Cinestyle. Setting resolusi raw video 1792 x 762 – full frame (10bit 2.35:1) dengan 24fps, bisa mendapatkan durasi 12 detik dan ini sudah cukup untuk membuat video footage. Dan Cinestyle sangat berguna untuk membuat kontras video lebih rendah sehingga dynamic range lebih luas. Ini akan membantu kita saat pasca produksi video nanti.

Mengenai Cinestyle, saat dulu menggunakan format H.264 bawaan kamera, pengolahan di pasca produksi bisa memanfaatkan LUT bawaan yaitu “S curve for cinestyle” dan hasilnya color grading footage kita lebih cakep. Tetapi saat kita menggunakan format RAW MLV ini, LUT tadi sepertinya tidak berguna lagi karena akan membuat color grading menjadi “semrawut”. Saya juga harus berkali-kali mencoba sampai pada satu titik bahwa proses color grading RAW MLV ini, mau tidak mau harus dilakukan secara manual.

Efek dari penggunaan format RAW MLV ini adalah file video akan berukuran lebih besar daripada saat menggunakan format H.264 bawaan kamera. Untuk 32GB sdcard yang biasa saya gunakan, paling banyak bisa menampung 30 file saja dengan format *.mlv. Format file ini tidak bisa serta merta kita import ke software pengolah saat pasca produksi. Kita harus mengkorversikan menjadi file video yang dikenali oleh software tersebut. Banyak software-software konverter yang bisa digunakan, dan saya biasa menggunakan “MLVtoMovie”. Kita bisa memilih opsi *.avi atau *.mov, dimana format *.avi akan menghasilkan file yang hampir sama besar dengan file asli jika kita memilih opsi “best quality“. Saya lebih senang menggunakan opsi ini karena lebih leluasa saat mengolah footage saat pasca produksi.

Nah, di bawah ini adalah workflow sederhana yang biasa saya gunakan saat mengambil video footage format RAW MLV menggunakan kamera DSLR Canon dari awal sampai akhir,

  1. Atur di mode RAW movie ukurannya 1792 x 762, aspect ratio 2.35:1, 24 fps.
  2. Atur Shutter speed 1/50 (kalau ada 1/48 lebih baik, tapi sayangnya tak ada) mengikuti setting fps sesuai aturan 180 derajat.
  3. Atur ISO max 400 untuk menghindari noise yang berlebih pada video.
  4. Atur bukaan diafragma sesuai dengan hasil video yang diinginkan, atau bisa juga diafragma sebagai variabel terakhir dari segitiga eksposur. Variabel yang bisa diubah-ubah dengan leluasa adalah ISO dan bukaan diafragma ini.
  5. Pada menu picture style, atur pada posisi Cinestyle dengan sharpness 0, contras -4, saturation -2, color tone 0. Bisa juga diubah-ubah sesuai selera saja.
  6. Dari setting di atas, kita akan mendapatkan kurang lebih 12-13 detik tiap video tiap satu kali pengambilan. Sesuaikan kebutuhan saja berapa lama video footage yang mau diambil mengingat besarnya file mentah yang harus disimpan dalam sdcard.
  7. Setelah proses pengambilan video selesai, pindahkan semua file ke perangkat laptop atau portable hardisk. Oh iya, di ML bisa disetting juga lokasi file apakah tiap file tersimpan dalam folder masing-masing ataukah jadi satu dalam folder utama. Saya biasanya menggunakan opsi terakhir agar nanti saat memindahkan file lebih mudah.
  8. Convert format file mentah dari kamera tadi dengan menggunakan software seperti MLVtoMovie. Selalu pilih opsi High Quality. Kenapa? karena buat apa capek-capek nge-shoot RAW tapi kita mengkompresi file mentah sebelum diolah kan?
  9. Setelah selesai proses convert file, periksa satu persatu apakah semuanya sudah ter-convert dengan sempurna.
  10. Lanjutkan proses post produksi (saya biasanya menggunakan premiere), atur sequence di 1080p 24fps. Perbesar semua file diangka 105% agar memperoleh sisi panjang sesuai sequence-nya, tapi masih menyisakan ada sekitar 12% kekosongan pada sisi atas-bawah. Oh iya, aspect ratio standar di view display adalah 4:3 sehingga pasti ada bagian atas bawah yang nampak di display akan ter-crop pada videonya nanti karena perbedaan aspect ratio.
  11. Di bagian color grading, lakukan secara manual saja tanpa menggunakan LUT S curve for cinestyle. Ada beberapa video saya yang cocok saat diatur menggunakan LUT , tetapi kebanyakan  malah terlalu kontras dan under-exposure. Jadi akhirnya saya lebih suka melakukan color grading secara manual sesuai kebutuhan hasil akhir video.
  12. Di bagian akhir, ekspor file yang sudah di-compile semuanya sesuai format yang diinginkan.

Semoga bermanfaat ya bagi teman-teman yang masih belajar untuk menjadi sinematografer amatir otodidak seperti saya ini. Tetap semangat berkarya.

Jangan telat SHOLAT! 😉